Di Manakah Pelabuhan Itu???

femme4.jpgSeperti hari-hari cerah lainnya dimana saya berdiri di ujung dermaga. Mengenakan gaun putih terbaik saya, memulas sedikit perona wajah dan lipstick, memasang senyum terbaik, menanti seseorang berlabuh. Seseorang yang turun dari kapalnya, lalu membawa saya berlayar, menuju lebih dekat ke arah Sang Pencipta.

Beberapa pria memang berhenti. Sekedar menyapa, mengajak ngobrol, dan berusaha mengenal saya. Beberapa cepat sekali berbenah dan berlayar pergi. Beberapa terlalu kurang ajar sehingga saya usir pergi. Saya pun tinggal sendiri di dermaga usang. Dengan gaun koyak dan kusam, mata sembab, dan wajah kuyu. Senyum penantian saya hilang, berganti senyum kepasrahan. Allah Maha Tahu.

Kelelahan datang menghampiri, saya pun duduk bertopang dagu di tepi dermaga itu. mengamati laut yang sunyi, menyimpan segala kehidupan di dalamnya dengan rapi. Saya termenung. Apa yang akan Allah rencanakan untuk saya?

Seketika saya mendengar bisikan “Dimanakah pelabuhan itu?” yang membuat saya bangun dan mencari sumber suaranya. Perlahan, seiring terbitnya matahari, bayangannya bertambah jelas. Saya mengamati penuh curiga. Seorang pria dengan kapal kayu sederhana. Ia tampak begitu tenang dan percaya diri. Suara lembutnya berkata, “Boleh saya menepi?”

Ketakutan luar biasa merayap begitu rupa. “Tidak, tidak boleh!” seru saya. Tidak boleh ada lagi, pria yang menghancurkan dermaga ini, begitu pikir saya. “Baiklah,” begitu katanya dan ia bersiap pergi. “Tunggu,” ujar saya. Sepertinya tidak adil kalau saya menghakimi tanpa mengenalnya dulu. Ia tampak seperti orang baik, saya bisa memberinya kesempatan.

“Lemparkan jangkarmu, utus talimu dulu yang berlabuh disini” begitu syaratku. Ia menurut. Syarat lain ia tidak boleh turun dari kapalnya dan harus berjarak 5 meter dari dermaga. Ia menurut. Kita mengobrol dan saling kenal dari sini saja, pinta saya lagi. Ia pun menurut.

Hari demi hari berlalu dan saya semakin menyukainya. Siang dan malam ia shalat dan berzikir. Ketika saya tidak shalat, ia mengingatkan dengan halus. Melihat gaun saya yang usang, ia memberikan saya kain yang indah sekali untuk berhijab, sampai saya terpana. “Untuk menjaga diri” pesannya. Saya pun merasakan kebenaran pesannya. Sering saya berburuk sangka padanya, tapi ia sabar menjelaskan baik-baik segala persoalan yang saya sangka-kan.

Kalau melihat-lihat kapalnya, dengannya ia mengarungi dunia, ada dua kalimat syahadat terukir di sisi kiri dan kanan. Dengan ukiran kecil asmaul husna di bibir kapal. Kapal ini begitu indah, puji saya dalam hati. Ukiran rapi itu, memperlihatkan pribadi penunggangnya yang tekun dan tawakkal.

Untuk pertama kali, saya bertemu dengan hati yang sedemikian bersih. Pribadi yang demikian damai. Saya begitu malu sampai hijab saya eratkan. Bersamanya, Allah terasa lebih dekat.

Karena takut kehilangan, tali dan jangkarnya saya tarik mendekat. Saya hujamkan pancang agar tak lepas. Saya merasa menemukan pasangan jiwa saya. Bukan jiwa duniawi yang haus akan kecocokan pengetahuan dan pengalaman, tapi jiwa ruhani, yang mengatakan “Orang ini, bisa mendekatkanmu pada Ilahi”

Namun tiang pancang berubah menjadi bumerang. Apa yang saya hujamkan, menyakiti dirinya. Ia berdarah. Diri saya dipenuhi hawa nafsu ingin memiliki, saya pun melirik, melihat kain hijab saya kembali kotor. Zikirnya terputus, shalatnya terhenti, ia menatap saya dengan kecewa. “Apakah benar ini pelabuhan saya?” ujarnya pada dirinya sendiri. Saya melihatnya menitikkan air mata. Penuh ketidakpercayaan diri. Begitu galau menundukkan keraguan.

Memandangnya, saya sadar, saya begitu tak berdaya. Perlahan saya pun mundur, menjauh darinya. Saya hanya ingin mencintainya, mendampinginya dalam susah dan senangnya. Merasakan keberadaan Allah, dengan bersamanya. Saya tak mau menyakitinya. Tidak sekarang, tidak selamanya.

Saya bersembunyi dan menangis, saya melukai salah satu makhluk Allah yang bersih. Mohon ampun ya Rabb, mohon maaf ya kekasih…

Hijab yang kotor saya cuci dibalik semak. Kalau hari ini tidak bersih, besok akan saya cuci lagi. Esok tidak bersih, lusa akan saya cuci lagi. Begitu seterusnya. Wajah yang munafik, saya bilas dengan air sungai. Saya buang semua perona wajah dan alat hias. Semua tak berguna.

Dengan pakaian seadanya dan wajah tanpa pulasan apa-apa, saya beranikan diri menemuinya. Tali yang terkait sudah lepas. Jangkar sudah diangkat. Ia memandang saya dengan sedih. Hati saya berbisik, apakah saya wanita yang tidak pantas untuknya ya Rabb? namun tak ada jawaban yang terdengar. Ini sudah urusan Allah, Yang Maha Agung.

Saya pun duduk bersimpuh di dermaga. Memandangnya penuh cinta dan kedekatan hati. Lirih saya berkata,

Allah tidak menghakimi seseorang karena hartanya, maka sekuat tenaga, saya sedang menirunya

Allah tidak menyayangi seseorang karena kebagusan fisiknya, maka sekuat tenaga, saya sedang menirunya

Allah tidak mendekati seseorang karena pintar berbicara, melainkan karena tulus hatinya, maka sekuat tenaga, saya sedang menirunya

Allah meminta hambanya mendekati pria dengan jiwa yang bersahaja, maka sekuat tenaga saya sedang mengikutinya

Allah menyuruh hambanya menikahi seseorang karena agamanya, maka sekuat tenaga, saya sedang mengikutinya

Sungguh saya berlindung dari pria yang jauh dari Allah

Hati saya berkata, Allah begitu menyayangimu. Maka saya pun menyayangi apa yang disayangi-Nya. Yarhamukallah ya akhi.

Bagaimanapun, kau datang kesini karena Allah. Maka menetaplah karena Allah, atau pergilah karena Allah.

Karena bahkan dalam ikhlas melepasmu pergi, wahai yang terkasih. Saya masih yakin, kaulah jalan untukku, menuju Dia Yang Maha Indah.

Saya menangis, semata karena saya manusia biasa yang punya rasa sedih. Saya pun menangis, kalau harus kehilangan dirinya yang dekat dengan Sang Pencipta. Tapi saya ikhlas, saya mencintainya apa adanya. Saya bahagia, ternyata saya lebih mencintai Allah daripada dirinya. Sekali lagi saya bertanya, Apa yang Allah rencanakan untuk saya?

Tersedu saya sendiri, tak berani menatap kapal yang menjauh pergi. Tak berani mendengar pertanyaan “Dimanakan pelabuhan itu?” dan kemudian melihatnya berlabuh di dermaga lain yang lebih indah. Dibalik hijab pemberiannya yang indah ini, saya hanya perempuan biasa. Bisa terseok lemah, bisa gemetar ketakutan, bisa merintih kehilangan. Namun Allah menguatkan saya untuk tidak jatuh. Untuk tetap duduk bersimpuh dalam ikhlas.

Sepasang tangan menyentuh siku, membimbing saya berdiri. Tak percaya saya melihat, wajah putih bersihnya muncul di hadapan saya. Kapal sudah tertambat dengan rapi, tanpa butuh tiang pancang. Jangkar sudah diturunkan dengan doa abadi. “Apakah kau bersedia, menerima kapal butut ini jadi mahar untuk menikahimu dan pria biasa ini jadi suamimu?” ujarnya. Tak ada yang mampu berkata apa-apa lagi. Dalam hati penuh Hamdallah, wujud fisik hanya mampu bertukar dua senyum bahagia dalam siraman rahmat. Harumnya serbuk bunga yang menyelamati mereka, tak seharum ijab kabul yang menunggu setelahnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.