Seperti hari-hari cerah lainnya dimana saya berdiri di ujung dermaga. Mengenakan gaun putih terbaik saya, memulas sedikit perona wajah dan lipstick, memasang senyum terbaik, menanti seseorang berlabuh. Seseorang yang turun dari kapalnya, lalu membawa saya berlayar, menuju lebih dekat ke arah Sang Pencipta.
Beberapa pria memang berhenti. Sekedar menyapa, mengajak ngobrol, dan berusaha mengenal saya. Beberapa cepat sekali berbenah dan berlayar pergi. Beberapa terlalu kurang ajar sehingga saya usir pergi. Saya pun tinggal sendiri di dermaga usang. Dengan gaun koyak dan kusam, mata sembab, dan wajah kuyu. Senyum penantian saya hilang, berganti senyum kepasrahan. Allah Maha Tahu.
Kelelahan datang menghampiri, saya pun duduk bertopang dagu di tepi dermaga itu. mengamati laut yang sunyi, menyimpan segala kehidupan di dalamnya dengan rapi. Saya termenung. Apa yang akan Allah rencanakan untuk saya? … continue reading this entry.